Difabel Jombang Bikin Kerajinan Unik dari Bambu

Difabel Jombang Bikin Kerajinan Unik dari Bambu 735x400 - Difabel Jombang Bikin Kerajinan Unik dari Bambu

Semangat Sang Ibu, Difabel Jombang Bikin Kerajinan Unik dari Bambu

Difabel Jombang Bikin Kerajinan Unik dari Bambu – Di samping rumah yang berukuran tidak terlalu besar, duduk di kursi roda sambil memotong bambu di atas meja yang sudah diukurnya untuk dijadikan produk kerajinan yang unik dan bernilai. Seorang pria terlihat duduk di atas kursi roda sambil memotong bambu di atas meja yang sudah diukurnya.

Ia sedang membuat miniatur motor, mobil, hewan, lampu hias, bunga, serta lampu belajar. Adalah Sukardi, difabel yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di Dusun Kayen, Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Diikunjungi lamarieeenfolie.com, laki-laki 35 tahun itu mengaku sudah menekuni usaha kerajinan tersebut selama setahun terakhir.

Kuat karena ibu dan ingin membanggakan 

Selama enam tahun itu, Sukardi dirawat ibunya. Atas ketelatenan sang ibu, Sukardi memiliki tekad untuk sembuh. Ia pun mengisi hari-harinya dengan membuat berbagai kerajinan di rumah ibunya. Dengan keterbatasan pada fungsi kaki, tekad bapak dua putra itu terus berkarya dan tidak ingin kecewakan ibunya.

“Ibu saya sangat telaten merawat, Itu yang membuat saya kuat. Makanya, sekarang dalam kondisi apapun, saya bertekad membuat ibu bangga dan bahagia,” tuturnya.

Dijual mulai harga Rp25.000 – Rp250.000 

Sukardi mengungkapkan, bambu yang dimanfaatkan untuk bahan baku antara lain bambu apus, bambu ori, dan bambu petung. Bambu-bambu itu ia beli dari masyarakat sekitar. Bambu lalu dipotong dalam ukuran kecil-kecil dan hampir seluruh potongan dari batang bambu baik kecil maupun besar ia manfaatkan.

Seperti ditunjukkan bagian bawah batang bambu yang keras ia poles menjadi miniatur robot. Ada sekitar 17 jenis dari 300 lebih produk kreatif yang sudah dihasilkan, antara lain miniatur bunga, binatang, celengan bambu, tempat alat tulis, dan lampu belajar.

Produk dari bambu itu dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp25.000 hingga Rp250.000. “Harganya macam-macam, tergantung besar kecil dan tingkat kesulitan. Kalau miniatur bunga Rp80.000, lampu belajar ada yang Rp180.00 dan Rp250.000,” ujra Sukradi didampingi istrinya.

Bagian Kakinya Tidak Berfungsi dan Harus Menggunakan Alat Bantu Kursi Roda

Lumpuh setelah kecelakaan kerja sejak 2001 

Ia mengisahkan, kelumpuhan yang dideritanya terjadi setelah mengalami kecelakaan kerja tahun 2001 di sebuah kawasan industri di Kalimantan. Sukardi saat itu hanya bisa berbaring tengkurap di atas ranjang selama kurang lebih 6 tahun.

“Selama itu tidak bisa aktivitas apapun. Setengah tahun kemudian saya terlentang dan setelah itu perlahan belajar turun dari ranjang,” kisah Sukardi dengan matanya berkaca-kaca, Kamis.

Tekuni kerajinan dari bahan bambu

Selama lumpuh, Sukardi pernah menjalani sejumlah usaha, mulai dari ternak ayam, jual pulsa hingga membuat gerobak dari kayu. Kemudian 1 tahun terakhir, Sukardi tinggal di Jombang bersama istrinya Widiawati (46) menekuni kerajinan dari bahan bambu.

Pada proses mengubah batang bambu menjadi berbagai jenis produk kreatif, Sukardi dibantu istrinya. Selain membantu menuangkan gagasan produk dalam sebuah pola, Widiawati juga memasarkan produk buah tangan suaminya.

“Istri saya kadang yang membantu buat gambar buat polanya kemudian saya yang mengerjakannya,” tutur pria kelahiran Grobogan, Jawa tengah tersebut.

Dipasarkan hingga ke Jogja dan Jawa tengah

Widiarti menambahkan, hingga saat ini belum banyak produk kerajinan suaminya yang beredar di pasaran, khususnya di Jawa Timur. Pemasaran produk masih terbatas pada komunitas disabilitas dan belum merambah pasar konsumen dari berbagai kalangan.

“Untuk (pemasaran) di Jawa Timur belum, tapi kalau ke Jogja (Yogyakarta) sudah ada yang beredar. Di sana ada teman disabilitas juga, tapi belum banyak,” imbuh Widiawati.

Selain fokus menekuni usaha kreatif itu sembari memperbaiki kekurangan dari setiap jenis produk, mereka memasarkan produk kerajinannya dengan memanfaatkan media sosial serta relasinya. Meski belum banyak menghasilkan, Sukardi tetap optimistis usaha yang dirintiskan akan menjadi berkembang.